Ketika itu hari Jumat
dan saat itu sudah pukul 11.00 WIB. Andi
mengantarkan ibunya pergi ke sebuah acara yang diadakan oleh kantor ibunyayang
berada di daerah Pancoran, Jakarta. Andi sebelumnya merencanakan untuk
berangkat dari rumah pukul 10.30 WIB agar setelah mengantarkan ibunya, Andi bisa
langsung pergi untuk melaksanakan ibadah Solat Jumat. Hal itu sudah diperhitungkan oleh Andi dengan
baik, dengan dia pergi pukul 10.30 WIB, maka Andi masih punya waktu untuk
melaksanakan Solat Jumat. Andi pun juga sudah melihat kondisi lalu lintas yang
akan dia lalui melalui GPS yang ada di iPad
nya. Tetapi, waktu keberangkatan Andi ternyata terlambat 30 menit.
Andi bersama ibunya
langsung menuju Pancoran dan mengantar ibunya menuju pertemuan itu. Ternyata
lalu lintas yang dia lalui dengan mobilnya lancar, sesuai dengan yang
ditunjukkan oleh GPS. Dengan nada yang lega Andi berkata kepada ibunya,
“Alhamdulillah ya bu, lalu lintasnya lancar, semoga masih ada waktu untuk Solat
Jumat.” Ibunya pun menjawab, “iya nak, semoga lancar terus sampai tujuan.”
Selang beberapa saat tibalah didepan pintu Tol Halim. Memang perhitungan dan
perkiraan Andi lalu lintas akan lancar hingga tempat tujuan. Namun, Allah punya
rencana lain, dibuatlah arus lalu lintas itu tersendat dan jam sudah
menunjukkan pukul 11.38 WIB sementara waktu Solat Zuhur adalah 11.58 WIB,
Memamng rencana Allah kita tidak mengetahuinya, Subhanallah. Andi masih percaya
bahwa kemacetan ini tidak parah, sehingga masih bisa untuk mengejar waktu Solat
Jumat. “Ya Allah! Macet lagi! Tapi pasti masih bisa sampai Insya Allah.” Waktu
pun terus berjalan, kemacetan tak kunjung mereda, dan waktu sudah menunjukkan
pukul 11.47 WIB, hal ini membuat Andi frustrasi karena takut tidak sampai
tempat tujuan sesuai perkiraannya, tetapi dibalik itu semua, Andi khawatir
tidak dapat melaksanakan Solat Jumat berjamaah.
Sementara itu, waktu
sudah menunjukkan pukul 11.51 WIB, namun Andi hanya berjarak 50 meter dari
Pintu Tol Halim. Andi pun terlihat gelisah, mukanya terlihat frustrasi,
perasaan hatinya tidak nyaman, Andi terus memikirkan, kenapa bisa macet?
Padahal menurut petunjuk di GPS seharusnya lancar saja? Ibunya pun menenangkan
Andi, “Sudahlah nak, kamu jangan gelisah seperti itu, baca kalimat zikir, Insya
Allah itu akan membuatmju tenang.” Andi mengikuti saran dari ibunya, namun dia
masih saja terlihat gelisah. Tidak beberapa lama, Andi berkata, “Kalau begini
keadaaannya, bisa-bisa Andi tidak bisa Solat Jumat, bu.” Ibunya kembali mencoba
menenangkan Andi, “Kamu jangan berbicara seperti itu nak, terus baca zikir dan
selalu ber khusnuza sama Allah.” Melihat keadaan disekitarnya Andi berkata,
“Ini orang-orang tidak mempedulikan Solat Jumat atau bagaimana?” Sejenak
keadaan menjadi hening, lalu tiba-tiba Andi menangis tersedu-sedu, dia menangis
karena takut tidak mendapat waktu Solat Jumat pada hari jumat itu. Melihat Andi
yang menangis itu pun, sang Ibu juga ikut menangis karena merasakan apa yang
Andi rasakan saat itu. Inilah hebatnya seorang Ibu, dia bisa mengerti apa yang
kita rasakan. Andi menangis dan berkata, “Bu, aku bisa tidak dapat waktu Solat
Jumat kalau keadaannya seperti ini terus!” Sambil mengusap air mata yang
mengalir di pipi Andi, sang Ibu berkata sambil juga menitikan air mata, “Yang
sabar ya nak, sekarang kamu berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan.”
Sementara Andi fokus menyetir dan berzikir, Ibu Andi pun berdoa, “Ya Allah,
berikanlah kelancaran pada perjalanan kami hari ini agar anakku bisa
melaksanakan Solat Jumat pada hari ini.” Andi juga tidak hanya berzikir,
didalam hatinya dia juga berdoa kepada Allah, “Ya Allah mudahkanlah
perjalananku, Aku tidak mau menjadi hambamu yang lalai dalam Solat, terlebih
Solat Jumat.” Setelah itu Andi menyalakan radio pada gelombang AM frekuensi
756, di channel itu selalu
memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Quran dan itu membuat hati Andi sedikit
lebih tenang dan damai. Lima menit kemudian, doa dari Ibu dan Andi di kabulkan
oleh Allah, dan hal itu membuat Andi dan Ibu nya kembali menitikan air mata
karena doa mereka diijabah oleh Allah. Lalu lintas yang tadinya padat, menjadi
lancar, penyebabnya adalah adanya antrean panjang yang menuju arah Tanjung
Priok. Seketika itu, Andi dan Ibunya mengucap syukur atas doa mereka yang
dikabulkan.
Setleah melewati
kemacetan, Andi merasa bingung karena tidak tahu dimana masjid yang terdekat
untuk melaksanakan Solat Jumat. Dalam kebingungan itu, Andi berdoa, “Ya Allah
berilah aku kemudahan dalam mencari masjid untuk Solat Jumat.” Tidak lama
setelah Andi berdoa, telepon genggam ibunya bordering, ternyata itu telepon
dari ayahnya, “Assalamualaikum, Bu, bagaimana? Sudah lancar?” Ibu menjawb,
“Waalaikumsalam. Alhamdulillah yah, sekarang sudah lancar. Tapi yah, kita gak
tau masjid yang terdekat.” Ayah menjawab, “Nanti setelah keluar dari Tol, ada
masjid Al-Maghfirah nah kamu nanti sama Andi solat di sana saja.” “Yasudah yah
terima kasih, Assalamualaikum.” Ibu menjawab. “Waalaikumsalam.” Jawab Ayah. Setelah
keluar dari Tol, Andi segera menuju masjid yang diberitahukan ayahnya tadi, dan
Andi datang tepat saat azan berkumandang.
Waktu sudah menunjukkan
pukul 13.05 WIB dan Andi sudah selesai melaksankan Solat Jumat, kemudian Andi
menuju mobil yang dia parkir, lalu menunggu Ibunya Solat Zuhur. Sesaat dia
termenung dan berpikir sambil bergumam didalam hatinya, “Andai saja bukan
karena pertolongan Allah, Aku mungkin tidak ada disini sekarang.”
Dengan kejadian yang Andi alami pada hari
Jumat, Andi menyadari bahwa segalanya mungkin saja terjadi atas pertolongan dan
izin Allah dan juga Andi menyadari bahwa kekuatan doa itu sangatlah penting dan
kuat, bila kita memintanya dengan sungguh-sungguh kepada Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar