Sabtu, 23 Juni 2012

Kekuatan Doa


Ketika itu hari Jumat dan saat itu sudah pukul  11.00 WIB. Andi mengantarkan ibunya pergi ke sebuah acara yang diadakan oleh kantor ibunyayang berada di daerah Pancoran, Jakarta. Andi sebelumnya merencanakan untuk berangkat dari rumah pukul 10.30 WIB agar setelah mengantarkan ibunya, Andi bisa langsung pergi untuk melaksanakan ibadah Solat Jumat.  Hal itu sudah diperhitungkan oleh Andi dengan baik, dengan dia pergi pukul 10.30 WIB, maka Andi masih punya waktu untuk melaksanakan Solat Jumat. Andi pun juga sudah melihat kondisi lalu lintas yang akan dia lalui melalui GPS yang ada di iPad nya. Tetapi, waktu keberangkatan Andi ternyata terlambat 30 menit.

Andi bersama ibunya langsung menuju Pancoran dan mengantar ibunya menuju pertemuan itu. Ternyata lalu lintas yang dia lalui dengan mobilnya lancar, sesuai dengan yang ditunjukkan oleh GPS. Dengan nada yang lega Andi berkata kepada ibunya, “Alhamdulillah ya bu, lalu lintasnya lancar, semoga masih ada waktu untuk Solat Jumat.” Ibunya pun menjawab, “iya nak, semoga lancar terus sampai tujuan.” Selang beberapa saat tibalah didepan pintu Tol Halim. Memang perhitungan dan perkiraan Andi lalu lintas akan lancar hingga tempat tujuan. Namun, Allah punya rencana lain, dibuatlah arus lalu lintas itu tersendat dan jam sudah menunjukkan pukul 11.38 WIB sementara waktu Solat Zuhur adalah 11.58 WIB, Memamng rencana Allah kita tidak mengetahuinya, Subhanallah. Andi masih percaya bahwa kemacetan ini tidak parah, sehingga masih bisa untuk mengejar waktu Solat Jumat. “Ya Allah! Macet lagi! Tapi pasti masih bisa sampai Insya Allah.” Waktu pun terus berjalan, kemacetan tak kunjung mereda, dan waktu sudah menunjukkan pukul 11.47 WIB, hal ini membuat Andi frustrasi karena takut tidak sampai tempat tujuan sesuai perkiraannya, tetapi dibalik itu semua, Andi khawatir tidak dapat melaksanakan Solat Jumat berjamaah.

Sementara itu, waktu sudah menunjukkan pukul 11.51 WIB, namun Andi hanya berjarak 50 meter dari Pintu Tol Halim. Andi pun terlihat gelisah, mukanya terlihat frustrasi, perasaan hatinya tidak nyaman, Andi terus memikirkan, kenapa bisa macet? Padahal menurut petunjuk di GPS seharusnya lancar saja? Ibunya pun menenangkan Andi, “Sudahlah nak, kamu jangan gelisah seperti itu, baca kalimat zikir, Insya Allah itu akan membuatmju tenang.” Andi mengikuti saran dari ibunya, namun dia masih saja terlihat gelisah. Tidak beberapa lama, Andi berkata, “Kalau begini keadaaannya, bisa-bisa Andi tidak bisa Solat Jumat, bu.” Ibunya kembali mencoba menenangkan Andi, “Kamu jangan berbicara seperti itu nak, terus baca zikir dan selalu ber khusnuza sama Allah.” Melihat keadaan disekitarnya Andi berkata, “Ini orang-orang tidak mempedulikan Solat Jumat atau bagaimana?” Sejenak keadaan menjadi hening, lalu tiba-tiba Andi menangis tersedu-sedu, dia menangis karena takut tidak mendapat waktu Solat Jumat pada hari jumat itu. Melihat Andi yang menangis itu pun, sang Ibu juga ikut menangis karena merasakan apa yang Andi rasakan saat itu. Inilah hebatnya seorang Ibu, dia bisa mengerti apa yang kita rasakan. Andi menangis dan berkata, “Bu, aku bisa tidak dapat waktu Solat Jumat kalau keadaannya seperti ini terus!” Sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi Andi, sang Ibu berkata sambil juga menitikan air mata, “Yang sabar ya nak, sekarang kamu berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan.” Sementara Andi fokus menyetir dan berzikir, Ibu Andi pun berdoa, “Ya Allah, berikanlah kelancaran pada perjalanan kami hari ini agar anakku bisa melaksanakan Solat Jumat pada hari ini.” Andi juga tidak hanya berzikir, didalam hatinya dia juga berdoa kepada Allah, “Ya Allah mudahkanlah perjalananku, Aku tidak mau menjadi hambamu yang lalai dalam Solat, terlebih Solat Jumat.” Setelah itu Andi menyalakan radio pada gelombang AM frekuensi 756, di channel itu selalu memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Quran dan itu membuat hati Andi sedikit lebih tenang dan damai. Lima menit kemudian, doa dari Ibu dan Andi di kabulkan oleh Allah, dan hal itu membuat Andi dan Ibu nya kembali menitikan air mata karena doa mereka diijabah oleh Allah. Lalu lintas yang tadinya padat, menjadi lancar, penyebabnya adalah adanya antrean panjang yang menuju arah Tanjung Priok. Seketika itu, Andi dan Ibunya mengucap syukur atas doa mereka yang dikabulkan.

Setleah melewati kemacetan, Andi merasa bingung karena tidak tahu dimana masjid yang terdekat untuk melaksanakan Solat Jumat. Dalam kebingungan itu, Andi berdoa, “Ya Allah berilah aku kemudahan dalam mencari masjid untuk Solat Jumat.” Tidak lama setelah Andi berdoa, telepon genggam ibunya bordering, ternyata itu telepon dari ayahnya, “Assalamualaikum, Bu, bagaimana? Sudah lancar?” Ibu menjawb, “Waalaikumsalam. Alhamdulillah yah, sekarang sudah lancar. Tapi yah, kita gak tau masjid yang terdekat.” Ayah menjawab, “Nanti setelah keluar dari Tol, ada masjid Al-Maghfirah nah kamu nanti sama Andi solat di sana saja.” “Yasudah yah terima kasih, Assalamualaikum.” Ibu menjawab. “Waalaikumsalam.” Jawab Ayah. Setelah keluar dari Tol, Andi segera menuju masjid yang diberitahukan ayahnya tadi, dan Andi datang tepat saat azan berkumandang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 13.05 WIB dan Andi sudah selesai melaksankan Solat Jumat, kemudian Andi menuju mobil yang dia parkir, lalu menunggu Ibunya Solat Zuhur. Sesaat dia termenung dan berpikir sambil bergumam didalam hatinya, “Andai saja bukan karena pertolongan Allah, Aku mungkin tidak ada disini sekarang.”

 Dengan kejadian yang Andi alami pada hari Jumat, Andi menyadari bahwa segalanya mungkin saja terjadi atas pertolongan dan izin Allah dan juga Andi menyadari bahwa kekuatan doa itu sangatlah penting dan kuat, bila kita memintanya dengan sungguh-sungguh kepada Allah.

Tidak ada komentar: