Idul Adha, hari besar umat muslim yang paling ditunggu umat muslim. Betapa tidak? di hari ini kita saling berbagi kenimatan kita kepada orang orang yang nasibnya bisa dibilang tidak seberuntung kita. Disamping kita saling berbagi kebahagiaan kepada saudara kita yang membutuhkan, kita diajari keikhlasan untuk berkurban, seperti yang diperlihatkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun kita masih melihat orang yang tidak ikhlas dalam berkurban, justru malah mencari popularitas dari kurbannya itu. Simaklah kisah ini.
Iskandar, seorang pengusaha sate kambing, tahun ini dia akan berkurban seekor kambing gemuk yang dia pilih dari peternakan biasa dia membeli kambing untuk dijadikan sate. Namun pak Iskandar dikenal oleh warga sekitar merupakan orang yang keras,dan suka mencela. Suatu ketika saat pak Iskandar membeli kambing untuk kurban, dia memilih sapi yang paling besar dan harga yang paling mahal. Mengapa? Tentu saja untuk menunjukkan bahwa dia berkurban paling besar dari pada yang lainnya. Hal ini tentu saja membuat warga disekitar menjadi resah akan kelakuan pak Iskandar yang selalu mencela dan menyombongkan diri, terutama saat melakukan suatu amalan baik.
Hari yang dinantikan telah tiba. Saat pemotongan hewan kurban yang paling ditunggu warga sekitar akhirnya datang juga. Saat dimana orang orang yang kurang mampu mendapatkan sedikit bantuan dari yang mampu. Disinilah terjadi intrik yang sangat hebat. Pak Iskandar datang ke tempat penyembelihan hewan kurban untuk menyaksikan pemotongan hewan kurban, termasuk hewan yang dia kurbankan itu. Melihat sekeliling hewan kurban yang kecil kecil, Pak Iskandar mulai dengan sifatnya yang jelek itu, "HAHAHAHAHA hewan seperti itu tidak pantas untuk dijadikan kurban! Yang pantas ya seperti saya ini, sapi yang gemuk sehat dan mahal!" mendengar perkataan itu, Mukhlisin, salah seorang panitia yang juga imam sholat di masjid itu berkata, "Pak Iskandar, kurban yang baik adalah kurban yang ikhlas dan datang dari hati. Allah SWT tidak melihat berapa besar yang kita kurbankan, tetapi keikhlasan kita saat berkurbanlah yang dilihat oleh-Nya." Mendengar perkataan seperti itu Pak Iskandar mengelak, "AH pak ustad gak usah ikut campur, ini kurban saya, ya terserah saya!" Akhirnya Mukhlisin menepi dan meninggalkan Pak Iskandar lalu melanjutkan pekerjaannya sebagai panitia kurban.
Sesaat setelah terjadi adu mulut antara Pak Iskandar dan Mukhlisin, hewan kurban Pak Iskandar siap untuk disembelih dan yang mengejutkan adalah Pak Iskandar sendiri yang menyembelih hewan kurbannya itu. Saat memotong hewan kurbannya itu sesuatu terjadi. Tangan Pak Iskandar ikut terpotong, akibat posisi tangan Pak Iskandar yang terlalu ketengah dan tidak hati hati. Dari kejadian ini Pak Iskandar sadar bahwa apa yang dia lakukan selama ini merupakan sesuatu yang salah dan Pak Iskandar bersyukur masih diingatkan oleh Allah sdan diberi kesempatan untuk bertaubat.
jadi pelajaran apa yang dapat kita ambil dari kisah ini? Janganlah kita berkurban semata mata untuk menunjukkan kebesaran dan mengharapakan pujian dari orang lain, berkurbanlah dengan hati yang tulus dan ikhlas, maka InsyaAllah kurban kita akan diterima oleh Allah ketimbang kurban yang tidak dilandasi keikhlasan didalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar