Kamis, 20 Juni 2013

Perjalanan Perubahan (Part 2)



(Lanjutan)
 
Rudi akhirnya benar-benar meninggalkan kakaknya sendirian di tanah kelahirannya itu, karena kesal dengan sikap Kak Zahra yang selalu bersikap sok memerintah. Ya, memang sejak kedua orangtua mereka meninggal, Kak Zahra yang memegang kepemimpinan keluarga yang sangat kecil itu. Dengan hanya berbekal uang Rp. 75.000 dengan kota tujuan Jakarta, rasanya tidak mungkin untuk Rudi sampai ke ibukota. Bagaimana tidak? Harga tiket bus saja yang menuju Jakarta sudah mahal, belum lagi biaya dia makan saat diperjalanan, dan lain-lain. Agaknya memang mustahil, namun Rudi tidak kehabisan akal. 

Seketika ia melihat ada mobil pickup yang mengarah ke pasar dan dari situ dapat dia simpulkan bahwa setiap mobil yang menuju pasar pasti aka nada mobil lain yang menuju luar kota hingga sampailah nanti ia di Jakarta. Ketika sedang diatas mobil pickup yang menuju Lamongan, dia bertemu dengan seorang anak diatas pickup tersebut yang umurnya sebaya dengan Rudi. Rambutnya hitam kecoklatan seperti habis terbakar panasnya matahari, badannya agak sedikit gemuk namun pendek, pakaiannya sudah lusuh, hampir seperti tidak pernah dicuci, dan juga membawa ukulele, alat music yang selalu dia bawa kemana mana. Mukhlis namanya, dia tinggal nomaden alias berpindah pindah karena tidak memiliki tempat tinggal. Ayah dan Ibunya sudah meninggal saat usianya masih menginjak tujuh tahun. “Hei, namaku Rudi. Kamu siapa?” Rudi bertanya heran. “Aku Mukhlis, salam kenal.” Jawabnya dengan nada datar. “Sedang apa kamu diatas mobil pickup ini?” Tanya Mukhlis. “Aku sedang dalam perjalanan merantau ke Jakarta, aku ingin meninggalkan  Surabaya. Aku sudah tidak tahan lagi!” jawab Rudi kesal. Penasaran, Mukhlis melanjutkan, “Memang kenapa dengan Surabaya? Kota seindah itu kenapa mau kamu tinggalkan ke ibukota?” “Sudahlah kamu tidak perlu tahu, yang jelas aku ingin meninggalkan kota ini.” Jawab Rudi santai. Sejenak mereka terdiam, tak lama Rudi melihat sebuah ukulele yang dipegang oleh Mukhlis. Karena penasaran, Rudi meminta Mukhlis untuk menyanyikan satu lagu untuk menemani mereka di perjalanan menuju Lamongan. Lagunya pun bukan sembarangan, lagu yang berjudul I Want To Hold Your Hand yang dipopulerkan oleh ‘The Beatles’ dimainkan hanya dengan sebuah ukulele. Selain itu, suara yang dikeluarkan juga sangat indah, bergelombang. Rudi yang baru pertama kali mendengar suara Mukhlis itu sejenak terpana dengan keelokan suaranya itu. 

Sesampainya di Lamongan, kedua teman ini berpisah. Mukhlis masih harus menyambung hidupnya di Lamongan sebagai pengamen, karena itulah dia selalu membawa ukulelenya itu. “Apakah kamu tidak ingin pergi bersamaku ke Jakarta?” Tanya Rudi heran. “Sudahlah, kita memang ditakdirkan terpisah di Lamongan, aku yakin, suatu saat kita akan bertemu lagi.” Jawab Mukhlis dengan senyumnya yang indah.

Waktu sudah menunjukkan untuk sholat Zuhur, Rudi seketika langsung meminta supir pickup itu untuk berhenti dan dia turun di masjid terdekat untuk melaksanakan panggilan Ilahi tersebut dan sang supir pickup itu juga langsung mengikuti langkah Rudi untuk sholat. Setelah sholat Zuhur yang sudah di qasar dengan Ashar, Rudi merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya, akhirnya dia pergi ke toilet masjid untuk buang air. Tetapi belum selesai Rudi buang air, supir pickup itu sudah melanjutkan perjalanan. Kebingungan kembali melanda Rudi, harus dengan cara apa lagi dia untuk sampai ke Jakarta? Akhirnya dia bertemu dengan supir angkutan umum yang juga akan melanjutkan perjalanan, kali ini kota yang dituju adalah Semarang, untuk mencapai kesana dia harus melalui kota Bojonegoro, Blora, Rembang, Pati, Kudus, dan Demak. Tetapi sang supir hanya bisa mengantarkan Rudi sampai ke Blora tentunya dengan bayaran yang bisa di nego oleh Rudi, yakni Rp. 50.000 dan sisa uang Rudi tinggal Rp. 25.000. Sesampainya di Blora, Rudi bingung harus berbuat apa dengan uang yang sudah menipis, sementara perjalanan ke Jakarta masih panjang. Dia akhirnya memutuskan untuk menjadi kuli serabutan guna menambah uang untuk perjalanannya ke Jakarta.

(Bersambung)

Tidak ada komentar: