(Lanjutan)
Rudi akhirnya benar-benar
meninggalkan kakaknya sendirian di tanah kelahirannya itu, karena kesal dengan
sikap Kak Zahra yang selalu bersikap sok memerintah. Ya, memang sejak kedua
orangtua mereka meninggal, Kak Zahra yang memegang kepemimpinan keluarga yang
sangat kecil itu. Dengan hanya berbekal uang Rp. 75.000 dengan kota tujuan
Jakarta, rasanya tidak mungkin untuk Rudi sampai ke ibukota. Bagaimana tidak?
Harga tiket bus saja yang menuju Jakarta sudah mahal, belum lagi biaya dia
makan saat diperjalanan, dan lain-lain. Agaknya memang mustahil, namun Rudi
tidak kehabisan akal.
Seketika ia melihat ada mobil
pickup yang mengarah ke pasar dan dari situ dapat dia simpulkan bahwa setiap
mobil yang menuju pasar pasti aka nada mobil lain yang menuju luar kota hingga
sampailah nanti ia di Jakarta. Ketika sedang diatas mobil pickup yang menuju
Lamongan, dia bertemu dengan seorang anak diatas pickup tersebut yang umurnya
sebaya dengan Rudi. Rambutnya hitam kecoklatan seperti habis terbakar panasnya
matahari, badannya agak sedikit gemuk namun pendek, pakaiannya sudah lusuh,
hampir seperti tidak pernah dicuci, dan juga membawa ukulele, alat music yang
selalu dia bawa kemana mana. Mukhlis namanya, dia tinggal nomaden alias
berpindah pindah karena tidak memiliki tempat tinggal. Ayah dan Ibunya sudah
meninggal saat usianya masih menginjak tujuh tahun. “Hei, namaku Rudi. Kamu
siapa?” Rudi bertanya heran. “Aku Mukhlis, salam kenal.” Jawabnya dengan nada
datar. “Sedang apa kamu diatas mobil pickup ini?” Tanya Mukhlis. “Aku sedang
dalam perjalanan merantau ke Jakarta, aku ingin meninggalkan Surabaya. Aku sudah tidak tahan lagi!” jawab
Rudi kesal. Penasaran, Mukhlis melanjutkan, “Memang kenapa dengan Surabaya?
Kota seindah itu kenapa mau kamu tinggalkan ke ibukota?” “Sudahlah kamu tidak
perlu tahu, yang jelas aku ingin meninggalkan kota ini.” Jawab Rudi santai.
Sejenak mereka terdiam, tak lama Rudi melihat sebuah ukulele yang dipegang oleh
Mukhlis. Karena penasaran, Rudi meminta Mukhlis untuk menyanyikan satu lagu
untuk menemani mereka di perjalanan menuju Lamongan. Lagunya pun bukan
sembarangan, lagu yang berjudul I Want To
Hold Your Hand yang dipopulerkan oleh ‘The Beatles’ dimainkan hanya dengan
sebuah ukulele. Selain itu, suara yang dikeluarkan juga sangat indah,
bergelombang. Rudi yang baru pertama kali mendengar suara Mukhlis itu sejenak
terpana dengan keelokan suaranya itu.
Sesampainya di Lamongan, kedua teman
ini berpisah. Mukhlis masih harus menyambung hidupnya di Lamongan sebagai
pengamen, karena itulah dia selalu membawa ukulelenya itu. “Apakah kamu tidak
ingin pergi bersamaku ke Jakarta?” Tanya Rudi heran. “Sudahlah, kita memang
ditakdirkan terpisah di Lamongan, aku yakin, suatu saat kita akan bertemu lagi.”
Jawab Mukhlis dengan senyumnya yang indah.
Waktu sudah menunjukkan untuk
sholat Zuhur, Rudi seketika langsung meminta supir pickup itu untuk berhenti
dan dia turun di masjid terdekat untuk melaksanakan panggilan Ilahi tersebut
dan sang supir pickup itu juga langsung mengikuti langkah Rudi untuk sholat. Setelah
sholat Zuhur yang sudah di qasar dengan Ashar, Rudi merasakan ada yang tidak
beres dengan perutnya, akhirnya dia pergi ke toilet masjid untuk buang air. Tetapi
belum selesai Rudi buang air, supir pickup itu sudah melanjutkan perjalanan. Kebingungan
kembali melanda Rudi, harus dengan cara apa lagi dia untuk sampai ke Jakarta?
Akhirnya dia bertemu dengan supir angkutan umum yang juga akan melanjutkan
perjalanan, kali ini kota yang dituju adalah Semarang, untuk mencapai kesana
dia harus melalui kota Bojonegoro, Blora, Rembang, Pati, Kudus, dan Demak.
Tetapi sang supir hanya bisa mengantarkan Rudi sampai ke Blora tentunya dengan
bayaran yang bisa di nego oleh Rudi, yakni Rp. 50.000 dan sisa uang Rudi
tinggal Rp. 25.000. Sesampainya di Blora, Rudi bingung harus berbuat apa dengan
uang yang sudah menipis, sementara perjalanan ke Jakarta masih panjang. Dia akhirnya
memutuskan untuk menjadi kuli serabutan guna menambah uang untuk perjalanannya
ke Jakarta.
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar