Rudi, seorang anak yang lahir di keluarga
yang segala kekurangan, kini hidup di kota Jakarta yang kehidupannya
sangat keras dan menuntutnya untuk bisa bertahan hidup. Dia dilahirkan dengan
latar belakang keluarga yang keras karena sebelumnya dia hidup di sekitar
pesisir pantai di Jawa Timur sebelum pindah ke Jakarta untuk menuntut ilmu.
Dengan watak yang keras itu, Rudi bisa bertahan hidup di Jakarta, namun dengan
cara yang agak kurang bagus. Untuk makan saja, dia bukan mencari pekerjaaan
yang halal, namun mendapatkannya dari hasil memalak, sungguh sesuai dengan
watak yang sudah tertanam. Bukan itu saja, teman temannya pun juga orang orang
seperti ‘penunggu’ warung kopi yang juga berwatak tidak jauh berbeda dengannya
dan juga orang orang ‘penagih hutang’ di pasar.
Suatu hari saat dia pergi bermain main dengan
kawan-kawannya itu dia tiba tiba dia jatuh pingsan saat akan memalak di pasar
dan seketika itu ada seorang pemuda yang langsung datang menolong Rudi,
dibawanyalah Rudi kerumahnya. Rumah pemuda itu memang tidak terlalu bagus,
tidak pula teralu jelek. Langsung diletakkannya Rudi di kasur yang sudah agak
usang itu.
Tinggi perawakannya, rambutnya tertata rapi,
pakaian putih nan bersih membalut tubuhnya yang coklat seperti sawo matang,
serta bersarung hitam yang indah. Dialah Ikhsan, pemuda yang menolong Rudi tiga
hari yang lalu saat dia pingsan di pasar. Pagi itu sarapan sudah terhidang di meja
makan tua, bukan seperti barang antik, lebih seperti kayu yang sudah lapuk.
Bukan sajian bak restoran-restoran bintang lima yang di meja makan rumah Ikhsan
terhidang, melainkan sebakul nasi, tempe goreng, tahu goreng, ikan asin, dan
secobek sambal mentah yang terhidang diatas meja kayu yang lapuk dan tanpa
taplak. Akhirnya Rudi terbangun pagi itu dan langsung disambut dengan senyuman
oleh Ikhsan dan ucapan pertama yang keluar dari mulutnya itu adalah,
“Assalamu’alaikum, akhirnya kamu sadar juga.” Dengan setengah sadar, Rudi
menjawab, “Hmm…. Ya….selamat pagi juga….” Ikhsan yang terkaget karena salamnya
tidak dijawab oleh Rudi langsung menyuruh Rudi untuk segera ke kamar mandi
untuk berwudhu terlebih dahulu. Namun Rudi yang memang berwatak keras langsung
saja menuju meja makan untuk langsung sarapan.
Sebenarnya di KTP Rudi tertera tulisan ‘Islam’ di
kolom ‘Agama.’ Namun Ikhsan sama sekali tidak melihat sosok seorang muslim yang
baik dalam diri Rudi. Memang Rudi terlahir di keluarga yang keras. Tetapi dalam
kesehariannya, keluarga Rudi tidak pernah jauh dari agama, termasuk Rudi
sendiri yang dulu di didik oleh ayahnya semasa kecil serta sebelum dia pergi
merantau ke Jakarta. Ibunya pun juga tidak pernah lelah untuk memberikan
nasihat agama kepada Rudi, semisal, ketika sudah memasuki waktu solat, Ibunya
selalu mengingatkan untuk segera memenuhi panggilan Surga itu. Kakaknya pun
ikut andil dalam membangun nuansa agama yang baik di keluarga ini, Rudi
seringkali kena ‘semprot’ kakaknya itu karena Rudi suka mengabaikan apa yang
dinasihatkan oleh kakaknya itu. Kak Zahra, begitu Rudi memanggilnya, seringkali
dibuat kesal oleh Rudi, padahal dalam hati Kak Zahra mengatkan, “sebenarnya ini
untuk kebaikanmu, Rudi, kakak sebenarnya tidak tega memarahimu.” Begitulah
kehidupan keluarga kecil Rudi yang terletak di pesisir pantai Jawa Timur. Namun
sebenarnya apakah yang salah dari Rudi sehingga dia berkelakuan seperti
demikian?
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar