Senin, 03 Juni 2013

Perjalanan Perubahan (part 1)

Rudi, seorang anak yang lahir di keluarga yang segala kekurangan, kini hidup di kota Jakarta yang kehidupannya sangat keras dan menuntutnya untuk bisa bertahan hidup. Dia dilahirkan dengan latar belakang keluarga yang keras karena sebelumnya dia hidup di sekitar pesisir pantai di Jawa Timur sebelum pindah ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Dengan watak yang keras itu, Rudi bisa bertahan hidup di Jakarta, namun dengan cara yang agak kurang bagus. Untuk makan saja, dia bukan mencari pekerjaaan yang halal, namun mendapatkannya dari hasil memalak, sungguh sesuai dengan watak yang sudah tertanam. Bukan itu saja, teman temannya pun juga orang orang seperti ‘penunggu’ warung kopi yang juga berwatak tidak jauh berbeda dengannya dan juga orang orang ‘penagih hutang’ di pasar.

Suatu hari saat dia pergi bermain main dengan kawan-kawannya itu dia tiba tiba dia jatuh pingsan saat akan memalak di pasar dan seketika itu ada seorang pemuda yang langsung datang menolong Rudi, dibawanyalah Rudi kerumahnya. Rumah pemuda itu memang tidak terlalu bagus, tidak pula teralu jelek. Langsung diletakkannya Rudi di kasur yang sudah agak usang itu. 

Tinggi perawakannya, rambutnya tertata rapi, pakaian putih nan bersih membalut tubuhnya yang coklat seperti sawo matang, serta bersarung hitam yang indah. Dialah Ikhsan, pemuda yang menolong Rudi tiga hari yang lalu saat dia pingsan di pasar. Pagi itu sarapan sudah terhidang di meja makan tua, bukan seperti barang antik, lebih seperti kayu yang sudah lapuk. Bukan sajian bak restoran-restoran bintang lima yang di meja makan rumah Ikhsan terhidang, melainkan sebakul nasi, tempe goreng, tahu goreng, ikan asin, dan secobek sambal mentah yang terhidang diatas meja kayu yang lapuk dan tanpa taplak. Akhirnya Rudi terbangun pagi itu dan langsung disambut dengan senyuman oleh Ikhsan dan ucapan pertama yang keluar dari mulutnya itu adalah, “Assalamu’alaikum, akhirnya kamu sadar juga.” Dengan setengah sadar, Rudi menjawab, “Hmm…. Ya….selamat pagi juga….” Ikhsan yang terkaget karena salamnya tidak dijawab oleh Rudi langsung menyuruh Rudi untuk segera ke kamar mandi untuk berwudhu terlebih dahulu. Namun Rudi yang memang berwatak keras langsung saja menuju meja makan untuk langsung sarapan.

Sebenarnya di KTP Rudi tertera tulisan ‘Islam’ di kolom ‘Agama.’ Namun Ikhsan sama sekali tidak melihat sosok seorang muslim yang baik dalam diri Rudi. Memang Rudi terlahir di keluarga yang keras. Tetapi dalam kesehariannya, keluarga Rudi tidak pernah jauh dari agama, termasuk Rudi sendiri yang dulu di didik oleh ayahnya semasa kecil serta sebelum dia pergi merantau ke Jakarta. Ibunya pun juga tidak pernah lelah untuk memberikan nasihat agama kepada Rudi, semisal, ketika sudah memasuki waktu solat, Ibunya selalu mengingatkan untuk segera memenuhi panggilan Surga itu. Kakaknya pun ikut andil dalam membangun nuansa agama yang baik di keluarga ini, Rudi seringkali kena ‘semprot’ kakaknya itu karena Rudi suka mengabaikan apa yang dinasihatkan oleh kakaknya itu. Kak Zahra, begitu Rudi memanggilnya, seringkali dibuat kesal oleh Rudi, padahal dalam hati Kak Zahra mengatkan, “sebenarnya ini untuk kebaikanmu, Rudi, kakak sebenarnya tidak tega memarahimu.” Begitulah kehidupan keluarga kecil Rudi yang terletak di pesisir pantai Jawa Timur. Namun sebenarnya apakah yang salah dari Rudi sehingga dia berkelakuan seperti demikian? 

Semua berawal saat Rudi pergi meninggalkan rumahnya itu untuk merantau. Kejadian itu terjadi saat 10 tahun yang lalu, saat kedua orangtua Rudi sudah meninggal dunia dan Rudi yang masih berumur 14 tahun itu sudah bosan dengan omelan dan celotehan Kak Zahra yang semakin lama semakin menasbihkan bahwa dialah yang menguasai keluarga itu, bukannya malah bekerja sama dengan Rudi untuk tetap mempertahankan keluarganya. “Rudi! Kamu itu bukannya kakak minta untuk mencari ikan di laut, ehh….malah keluyuran kesana kemari gak jelas?! Lakukan sesuatu yang berguna gitu lho, Rudi!” Kak Zahra dengan bentakan yang keras bagai membelah lautan. “Ah, Kakak Cuma bisa nyuruh-nyuruh Rudi saja! Rudi sudah besar kak, tidak perlu lagi disuruh-suruh, Rudi sudah bisa menentukan apa yang baik menurut Rudi,” balas rudi yang tidak mau kalah dari kakaknya. Mereka berdua terus beradu argumen, hingga pada satu titik dimana perdebatan itu memuncak, berubah Rudi yang sekarang ini, “Baiklah! Kalau kakak masih menganggap Rudi ini anak kecil, Rudi akan pergi merantau ke Jakarta dan akan membuktikan kalau Rudi sudah pantas dikatakan sebagai orang dewasa!” Tanpa basa-basi lagi, Rudi pergi ke kamarnya, mengambil pakaian seadaanya lalu dia bungkus dengan tas kain yang sudah lusuh dan berangkat menuju Jakarta dengan uang seadanya.

(Bersambung)

Tidak ada komentar: