Senin, 09 September 2013

Kaderisasi

Kadersisasi, hal yang sudah biasa kita dengar di kehidupan kita saat ini, apalagi di kampus saya yang terletak di Surabaya, kata itu sudah menjadi konsumsi biasa khalayak mahasiswa di kampus ini. Namun seringkali kaderisasi ini dijadikan sebagai hal yang kurang baik dan disikapi oleh mahasiswa yang sudah lama di kampus sebagai hal yang negatif. Kaderisasi seharusnya mengarahkan yang lebih baik demi mencetak kader kader atau generasi penerus yang lebih baik dari kita nantinya. Namun entah caranya (pengaderan) ataukah sistem dari pengaderan itu sendiri yang tidak sesuai sehingga proses kaderisasi ini dijadikan sebagai "ajang balas dendam." Itulah yang terjadi di universitas-universitas yang ada di Indonesia, bukannya mencetak kader kader yang lebih baik yang nantinya akan memimpin bangsa ini, justru dijadikan sebagai orang orang yang hanya bisa tunduk pada penguasa, bungkam, dan tidak berani mengkritik. Apakah itu yang diinginkan? Jelas bukan!

Kita ambil contoh saja di kampus saya ini di salah satu jurusan yang sudah tua. Mahasiswa Baru (maba) jurusan itu diajarkan untuk keras, tunduk pada penguasa, dan tidak berani mengungkapkan sesuatu. Mereka digojloki dengan berbagai tindakan yang seharusnya tidak dilakukan kepada manusia, dalam kata lain, menentang hak asasi manusia. Memang keluaran mereka menjadi lebih kuat hubungan antar angkatan. Namun menjadi lebih keras kepala, dikarenakan sistem pengaderan mereka yang seperti itu. Ada lagi sebuah universitas di Surabaya yang dibawahi oleh Angkatan Laut, sudah barang tentu sistem pengaderan mereka menjadi lebih kemiliter-militeran. Sistem yang diberlakukan untuk kaderisasi maba sudah melampaui batas, bahkan sudah memakan korban di universitas itu. Sudah tidak sehat lagi pengaderan di negeri kita ini.

Jika dibandingkan dengan sistem kaderisasi negara kita dengan di luar negeri, saya rasa sistem kaderisasi di luar negeri dampaknya lebih mengena dibandingkan dengan sistem kaderisasi di negeri kita. Sistem kaderisasi di luar negeri konsepnya tidak jauh beda dengan kita, mereka, maba, diajarkan untuk memiliki jiwa kepemimpinan, disamping juga intelektualitas yang tinggi, serta kesatuan angkatan. Namun yang berbeda adalah sistemnya, sistem yang diberlakukan oleh universitas di luar negeri adalah lebih diarahkan kepada pengenalan kehidupan kampus dan juga teman teman baru yang akan mereka temui, dengan menanamkan konsep konsep yang sudah disebutkan sebelumnya. Di Indonesia? Konsepnya tidak jauh berbeda, namun sistemlah yang menjadi masalah. Maba diberlakukan seakan akan mereka menjadi objek bentakan dan pembalasan dendam para senior, sebenarnya ini proses kaderisasi ataukah pembalasan dendam senior kepada junior? Rasanya peraturan bahwa senior selalu benar sudah sangat melekat. Memang konsep yang ditanamkan sama, namun sistem yang mengarahkan kepada konsep sebelumnya kurang tepat, yang ada malah terjadi senioritas sehingga mahasiswa baru tidak nyaman, meskipun membutuhkan waktu untuk menjadi nyaman. 

Hasilnya? Mahasiswa Indonesia yang berkuliah di negeri sendiri hanya bisa mengungkapkan aspirasi melalui kekerasan dan teriakan yang sia sia, mayoritas dan sudah terbukti dari para pemimpin kita yang seperti itu, yang dihasilkan dari kaderisasi yang kurang tepat di Indonesia. Lain halnya dengan mahasiswa luar negeri yang menyuarakan langsung dengan bukti nyata. Ya karena itu, kaderisasi yang konsep atau nilainya langsung tertanam di dalam diri mahasiswanya. Dengan begitu, mereka dapat berbicara lebih baik didalam maupun diluar kampus. Agak sedih melihat yang ada di Indonesia, tetapi inilah realita.

Ini bukan masalah balas dendam, ini bukan masalah senioritas, tetapi ini adalah masalah bagaimana kita dapat mempersiapkan kader penerus kita di masa depan nantinya yang akan memimpin negara ini dan jika salah, maka kitalah sebagai pengader yang akan bertanggungjawab atas generasi penerus yang gagal.

Tidak ada komentar: