Kamis, 29 Agustus 2013

Gejolak Mesir

Ikhwanul Muslimin, Muhammad Mursi, dan  R4BIA. Adalah kata kata yang sering kita dengar saat ini yang dengan langsung orientasi kita menuju pada suatu negara di dataran Benua Afrika bagian utara, yakni Mesir. Negara yang saat ini sedang menjadi bahan perbincangan diberbagai kalangan dan juga di media media, terlebih media sosial yang sedang menjadi trending topic  saat ini. Hampir disetiap sudut daerah ada yang membicarakan tentang gejolak di Negeri Piramid ini, bahkan tidak Cuma di Indonesia saja, masalah ini sudah mengglobal. Sampai dengan saat ini gejolak Mesir ini belum juga terselesaikan, bahkan PBB (akhirnya) turun tangan.

Awal mula dari gejolak di Mesir ini adalah ketidaksenangan militer terhadap kepemimpinan Presiden terpilih Muhammad Mursi  karena dinilai tidak bisa mengatasi masalah ekonomi yang sedang jatuh waktu itu di Mesir. Karena ketidaksenangan itulah pihak militer menggulingkan Presiden Terpilih Muhammad Mursi dan mengkudeta pemerintahan sementara. Itulah masalah besar yang menyebabkan gejolak di Mesir, rakyat menentang adanya kudeta militer terhadap pemerintahan dan mendesak untuk mengembalikan pemerintahan kepada Muhammad Mursi. Karena mereka meraasa hak terhadap demokrasi telah diambil oleh militer. Kelompok yang melakukan perlawanan terhadap kudeta ini disebut sebagai Saudara Muslim atau lebih dikenal sebagai Ikhawnul Muslimin. Merekalah yang gencar terhadap kejadian tergulingnya Presiden terpilih Mursi dan terkudetanya pemerintahan di Mesir. Puncaknya adalah saat hari Rabu yang dikenal dengan sebagai “Rabu Berdarah.” Mengapa? Karena banyak sekali warga sipil di Mesir yang meninggal dan luka-luka akibat bentrok dengan militer terkait pengembalian kekuasaan yang dipegang oleh Muhammad Mursi.  Berita terakhir menyebutkan bahwa sebanyak 278 korban meninggal dunia dan sekitar 1000 lebih korban luka luka.  Terakhir, Ikhwanul Muslimin melakukan aksi mogok di masjid masjid, meskipun saat ini mereka sudah bubar. Bahkan hal lain yang disebabkan oleh adanya gejolak di Mesir ini, hewan hewan di kebun binatang Kairo mencoba bunuh diri akibat stres.

Keadaan terkini Mesir sudah relatif tenang yang artinya hampir tidak ada kerusuhan. Hak itu membuat wisatawan global ikut senang dengan ketenangan yang sudah ada di Mesir. Namun ketenangan ini bukan berarti tidak ada susulan akan demonstrasi menggulingkan rezim militer. PM interim Mesir menyebutkan bahwa meskipun Ikhwanul Muslimin sudah bubar, bukan berarti krisis Mesir sudah berakhir.

Dengan kejadian yang melanda Mesir ini, Negara ini mendapatkan banyak simpati dari hampir di seluruh dunia dan kebanyakan adalah negara negara yang mayoritas berpenduduk Muslim. Arab Saudi yang pertama kali menyatakan akan segera membantu di bidang apapun untuk menyelesaikan konflik yang ada di Mesir, diikuti negara negara di Liga Arab, dan negara muslim di Asia termasuk Indonesia. Namun Indonesia dinilai telat dalam mengambil keputusan untuk membantu konflik yang ada di Mesir.


Terdapat fakta unik antara Mesir dan Indonesia.  Pertama, saat Indonesia sudah merdeka, setahun setelah kemerdekaan RI, Mesir mengakui kemerdekaan RI secara de facto lalu diikuti palestina dan negara negara islam timur tengah lainnya. Kedua, saat Surabaya diserbu saat 10 November 1945, IM (sebutan Ikhwanul Muslimin) menggelar sholat ghaib guna mendoakan warga Indonesia yang sudah meninggal di medan perang. Ketiga, saat Indonesia mengalami bencana tsunami pada 26 Desember 2004. Presiden terpilih Muhammad Mursi (saat itu adalah relawan yang ditunjuk oleh IM) langsung memberikan bantuan kepada Indonesia. Lalu apakah reaksi kita terhadap apa yang terjadi di Mesir saat ini? Bisa dibilang belum ada dan juga lambat. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Raja Abdullah bin Abdul Azis dari Arab Saudi yang langsung menyatakan akan membantu Mesir. Rasanya ungkapan ‘Air susu dibalas dengan air tuba’ sangat pas untuk Indonesia. Tetapi berangsur angsur sudah ada beberapa organisasi yang memberikan bantuan untuk Mesir yang sedang bergejolak. Sudah merupakan suatu kemajuan dan sudah merupakan kewajiban kita sebagai umat muslim untuk saling membantu saudara kita yang muslim di luar sana.

Tidak ada komentar: