Malam itu setelah pulang dari silaturahmi lebaran, aku sempat melihat muka ayah yang terlihat lesu, capek, dan kurang tidur. Memang ayah tidak ikut berlebaran di kampung halaman bersamaku dan keluarga disana karena rekan kerja ayah sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia ini. hari sebelumnya ayah bahkan sudah memesan tiket untuk langsung pulang ke Jakarta untuk segera melayat kerumah duka. Sebelum berangkatpun ayah sempat menangis tersedu sedu karena masih tidak percaya, begitu pula dengan bunda.
keesokan harinya ayah sudah kembali ke kampung halaman di Banyuwangi dan sampainya pun sesaat setelah subuh, kira kira pukul lima kurang. Ayah tampak lelah dan terpejam matanya seketika itu diatas kasur lalu tertidur, karena ayah tau bahwa masih ada acara keluarga kami yang masih harus didatangi. Selepas itu kami semua kembali kerumah untuk istirahat, terutama ayah yang masih sangat terlihat lelah karena perjalanan panjang dari Jakarta. Malamnya pun ayah kembali berangkat menuju rumah masa kecilnya, Padangan, Bojonegoro untuk menghadiri reuni bersama teman SMP nya dulu.
Keesokan harinya ayah pulang, kira kira setelah isya', aku yang melihat raut wajah ayah yang terlihat senang, heran. bagaimana tidak? ayah baru saja pulang dan pasti sangat lelah, aku langsung menanyakan kepadanya, "Yah, muka ayah sama sekali gak terlihat capek dan mau bela belain jauh jauh ke tempat temen ayah di Padangan dan melayat keluarga temen ayah yang sudah wafat, kok mau sih yah?" ayah dengan santai sambil tersenyum menjawab, "Mas, ayah bakal ngelakuin apa aja untuk membahagiakan orang yang sudah membahagiakan ayah sampai saat ini." Itulah yang menjadi motivasi dan kekuatan ayah sampai dengan saat ini. Bahkan bisa disejajarkan dengan superhero-superhero fiksi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar